Sempat Viral, Ini Tujuan Dibuka Kawasan Mangrove di Desa Banggoi

Sempat Viral, Ini Tujuan Dibuka Kawasan Mangrove di Desa Banggoi

BULA, hunimuanews.com-Sempat viral hingga menjadi tranding topik di Media Sosial (Medsos) tentang dugaan penjualan kawasan Mangrove di desa Banggoi kecamatan Bula Barat kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) baru-baru ini, kini memperoleh tanggapan hangat dan solutif dari sejumlah pihak, terkait masalah dimaksud.

 

Semula bergulirnya informasi tentang dugaan jual beli lahan Manggrove di Desa Banggoi itu, sesungguhnya keliru bahkan tak ada transaksi jual beli lahan tersebut. Hal ini diungkapkan Tenaga Ahli PT. Perusahaan Samudera Biru Khatulistiwa (SBK) Amrulla Usemahu, saat menggelar pertemuan secara resmi bersama masyarakat adat Desa Banggoi di Balai Desa setempat, Rabu, (29/9/21).

 

Amrullah dalam paparanya mengatakan, pemanfaatan hutan mangrove merupakan hak masyarakat yang dijamin dalam Undang-Undang, Tidak hanya itu, dari sisi pemanfaatan hutan mangrove tersebut dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. 

 

Ditegaskan, rencana kegiatan pengembangan hutan mangrove yang akan dilakukan PT. Samudera Biru Khatulistiwa di Desa Banggoi nantinya, tidak berkaitan dengan pencemaran lingkungan, penebangan kawasan mangrove secara meluas, atau mencaplok kawasan lokasi situs sejarah desa, dan kegiatan destruktif lainnya. 

 

"Jadi seng ada orang yang datang potong pohon mangrove, kasi rusak dan sebagainya tidak ada, apalagi sampai jual beli, ini sebuah perencanaan pengembangan yang dapat memberdayakan masyarakat, perencanaan ini juga membutuhkan kesepakatan bersama," tegasnya.

 

 

Dia menjelaskan, selain dari sisi pemanfaatan, ekosistem mangrove ini berperan sebagai filter untuk mengurangi efek yang merugikan serta meningkatkan perubahan lingkungan utama dan sebagai sumber makanan bagi biota laut (pantai) dan biota baru.

 

"Jadi ekosistem ini juga berfungsi dalam mengolah limbah melalui penyerapan kelebihan nitrat dan phospat sehingga dapat mencegah pencemaran dan kontaminasi di perairan sekitarnya kawasan mangrove ini," ujarnya

 

Amrulla selaku tenaga ahli perwakilan perusahaan tersebut membeberkan, pelestarian ekosistem hutan mangrove yang direncanakan berpusat di Desa Banggoi itu, diberlakukan dengan berbagai program berbasis pemberdayaan terhadap masyarakat setempat. Selain itu lanjut dia, program strategis lainnya, adalah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat pun turut diupayakan.

 

"Sebetulnya ini ruang untuk bagaimana meningkatan PAD Desa dan juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang diberdayakan dalam kelompok nelayan Kepiting Bakau Desa Banggoi," jelasnya

 

Dijelaskan, dari rencana pelestarian kawasan mangrove, didalamnya terdapat pengembangan budidaya kepiting bakau dan Ekowisata pada kawasan pesisir dan laut di Desa Banggoi. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan potensi wilayah pesisir dan laut secara berkelanjutan. 

 

"Dari perencanaan ini, dilakukan prinsip yang sifatnya berkelanjutan serta mampu merangkul keterlibatan semua lapisan masyarakat," terangnya

 

Dalam kesempatan tersebut, hal senada turut ditandaskan Kepala Dinas Perikanan kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Ramli Sibualamo. Dikatakan, terkait polemik perencanaan pengembangan kawasan mangrove di daerah ini, secara pemerintahan, pada prinsipnya pihaknya mempunyai kewenangan dalam mengatur lingkungan yang ingin dijadikan sebagai kawasan pemanfaatan bagi masyarakat.

 

Menurutnya, untuk mengatasi hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah melalui dinas terkait. Dengan demikian, adanya perencanaan pemanfaatan kawasan mangrove yang ingin dijadikan sebagai kawasan budidaya kepiting bakau dan ekowisata di desa Banggoi itu, pihaknya mengapresiasi langkah tersebut, jika sasaran pemanfaatan itu dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.

 

"Saya sebenarnya tidak tau ini masalahnya seperti apa, namun dengan adanya perencanaan itu, saya peroleh penjelasan dan presentasi secara detail dari pihak perusahaan terkait perencanaan pengembangan kawasan mangrove ini bagaimana manfaatnya terhadap masyarakat," jelasnya

 

Hemat dia, pengembangan kawasan mangrove dan budidaya kepiting bakau itu merupakan bagian dari potensi alam yang dimiliki masyarakat Banggoi. Dengan begitu, dari perencanaan yang dilakukan, masyarakat setempat kelak merasakan hasil dari sisi pemanfaatan pengembangan kawasan tersebut.

 

"Ini harus dijemput, perkembangan dan kemajuan desa Banggoi ini, melalui perencanaan pemanfaatan kawasan mangrove ini bagian dari solusi untuk itu perlu dimanfaatkan," ujarnya

 

Diketahui rencana kegiatan yang akan dilaksanakan perusahaan diantaranya :

 

1. Pemetaan Kawasan pengembangan Budidaya kepiting bakau dan ekowisata Mangrove Desa Banggoi berbasis ekosistem

 

2. Memberikan Dukungan Bantuan Modal dan Sarana prasarana bagi Masyarakat yang terbentuk dalam kelompok nelayan kepiting bakau.

 

3. Kawasan Mangrove akan menjadi pusat laboratorium ilmiah bagi masyarakat dalam menjaga lingkungannya dan tidak membatasi ruang gerak masyarakat ketika beraktifitas.

 

4. Dibangun kerjasama yang baik dalam sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan.

 

Diketahui, rencana pengembangan kawasan mangrove serta diadakan budidaya kepiting bakau di desa Banggoi itu akan dilaksanakan, setelah ada kesepakatan bersama antara semua pihak, yakni masyarakat adat Negeri Banggoi dan Pihak Perusahaan PT. Samudera Biru Khatulistiwa.

 

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas Perikanan kabupaten SBT Ramli Sibualamo, Pimpinan Wilayah kecamatan Bula Barat Ridwan Rumonin, Raja Negeri Banggoi, Tenaga Ahli PT. Samudera Biru Khatulistiwa, sejumlah perwakilan Marga adat negeri Banggoi, serta warga masyarakat setempat yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. (HN-MR)