Gerakan 1000 Buku Untuk Pulau Panjang Kabupaten SBT

Gerakan 1000 Buku Untuk Pulau Panjang Kabupaten SBT

hunimuanews.com - Pemuda-Pemudi Kecamatan Pulau Panjang, Kabupaten SBT dengan ide sederhana mengerakan pengadaan buku-buku baca untuk anak-anak di wilayah kelahiranya, dengan nama GERAKAN 1000 BUKU sebagai bentuk gerakan pemuda dalam memberikan solusi nyata terhadap negeri.
 
 
Ketua Panitia Kegiatan, Abidin Loklomin saat di konfirmasi jurnalis hunimunews melalui WhatsApp pada Senin, 11/9. mengungkapkan "selaku pemuda kami tidak punya link yang menjanjikan untuk memperjuangkan listrik dan air bersih, hanya sekedar menyuarakan aspirasi. Itupun kalau didengar oleh pemangku kepentingan baik dari pusat hingga daerah. Maka ini yang bisa secara real kami perjuangkan namun memungkinkan kebermanfaatannya lebih real di lapangan”. 
 
 
"Gerakan ini bertujuan untuk membantu mengembangkan pendidikan di wilayah Pulau Panjang yang mana dengan daerah berlatar geografis pulau, terdapat banyak kendala yang dihadapi. Pendidikan di daerah ini sangatlah tertinggal dari daerah lainnya, hal ini diperparah dengan tidak adanya sumber listrik (Penerangan)". Tegasnya
 
 
"Bukan saja penerangan yang digunakan untuk sekolah-sekolah di daerah ini namun terlebih lagi penerangan untuk rumah-rumah wargapun tidak ada. Hal ini mengakibatkan kurangnya minat belajar anak pada malam hari, disaat daerah lain sudah merasakan manfaat listrik untuk belajar di malam hari, anak-anak di Pulau Panjang masih bergelut dengan lampu pelita". Ungkapnya
 
 
"Pulau Panjang terdiri dari 6 perkampungan besar dengan sarana pendidkan 3 Sekolah Dasar dan masing-masing 1 SMP dan 1 SMA. Dari 3 SD tersebut yang berdiri hingga saat ini masih kekurangan guru yang sangat mencolok, apalagi pada sekolah SMP dan SMA. Bisa disimpulkan sendiri output dari sekolah-sekolah yang kekurangan guru". Lanjut Mantan Sekretaris Umum FPPM Pulau Panjang Tersebut.
 
 
Senadana di kesempatan yang sama Ketua Umum FPPM Pulau Panjang, Jusan Darlean Mengungkapkan “satu orang guru mengajar 2 sampai 3 mata pelajaran di tingkatan kelas yang berbeda dan dengan disiplin ilmu yang tidak sesuai saat perkuliahan. Hal ini yang mengakibatkan banyak siswa yang tidak antusias dalam mengikuti jalan proses belajar-mengajar. Setiap tahunnya ada siswa yang lebih memilih sekolah diluar daerah dengan alasan keterbatasan guru dan sarana penunjang lainnya terutama buku mengajarajar. Dengan keterbatasan inipun pemuda di wilayah ini masih menyimpan asa yang tinggi terhadap pembangunan manusia di Pulau Panjang". Tutur Jusan
 

"Untuk menyikapi ketertinggalan dalam pendidikan yang ada pada wilayah Pulau Panjang diharapkan pemerintah daerah lebih selektif dalam menempatkan tenaga pengajar pada daerah-daerah yang benar-benar membutuhkan guru, bukan saja sekedar jadi guru kemudian menjalankan tugas namun perlu pemerataan guru". Harapanya


di kesempatan yang sama pula Samsul Bahri Loklomin Menutturkan “solusi untuk pemerataan guru adalah pemda berani memutasikan guru-guru yang ada di sekolah-sekolah yang jam mengajarnya kurang untuk ditugaskan pada sekolah-sekolah yang kekurangan guru".
 
 
"Terlihat di lapangan jam mengajar guru pada sekolah tertentu di SBT kurang padahal guru-guru itu berstatus PNS". Tegas mahasiswa Statistika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Tersebut.