Tradisi Malam 27 Ramadhan di Engglas

Tradisi Malam 27 Ramadhan di Engglas

Warga desa Engglas kecamatan Bula kabupaten Seram Bagian Timur, memiliki tradisi merayakan malam 27 Ramadhan. Pada malam yang diyakini sebagai malam Lailatul Qadar ini, warga menyalakan lampu pelita atau yang biasa di sebut sebagai Damar oleh warga setempat, di sepanjang jalan.

 

CATATAN  :  REDAKSI HUNIMUANEWS.COM

Puluhan lampu pelita yang terbuat botol berukuran kecil serta sumbu dan minyak tanah sebagai bahan bakar berjejer di sepanjang pinggir kiri dana kanan jalan desa Engglas saat memasuki malam 27 Malam Ramadhan 1439 Hijriyah, tepatnya pada, Sabtu (10/6).

 

Lampu – lampu Pelita yang belum menyala tersebut diletakkan warga sebelum waktu berbuka puasa dan waktu sholat Magrib.

 

Selain puluhan lampu pelita itu, warga juga meletakkan makanan di atas beberapa pohon di depan rumah warga setempat.

 

Setelah berbuka puasa dan melaksanakan Sholat Magrib, para penghulu Masjid dan tokoh masyarakat setempat lalu berjalan, menyalakan satu per satu pelita atau  Damar tersebut. Suasana desa itu pun semarak

 

Suasana kian semarak saat lampu pelita menyala dan warga berbutan makanan yang diletakkan di atas pohon-pohon kecil di depan rumah.

 

“Ini sudah jadi tradisi dalam rangka  malam 27 Ramadhan atau malam Lailatul Qadar,”ungkap kepala desa Enggalas, Bahrudin Tueka di sela perayaan malam 27 Ramadhan tersebut.

 

Sebagai sebuah tradisi, perayaan malam 27 Ramadhan dengan menyalakan lampu pelita itu sudah dilakukan sejak para leluhur warga setempat.

 

“Sebagai rasa syukur memasuki malam 27 Ramadhan dan rasa syukur karena beberapa hari lagi sudah tiba hari Raya Idul Fitri,”kata Tueka.

 

Setelah menyalakan pelita dan melaksanakan Sholat Isya dan Tarawih secara berjamaah, dilanjutkan dengan doa bersama di Masjid desa itu.

 

Tueka melanjutkan, pada hari ke 29 Ramadha nanti akan dilakukan tradisi lain, yakni menebang pohon dammar dan meletakan di pinggir pantai.

 

“Itu menunjukkan bahwa di hari berikutnya sudah lebaran Idul Fitri,”ungkapnya.

 

Selain warga desa Engglas, warga di sejumlah desa di kabupaten SBT juga memiliki tradisi yang sama, menyalakan pelita dan meletakkan di pinggir jalan desa mereka(***)