Sosialisasi "Aksi 4", Ini Penjelasan Kabid Kesmas SBT

Sosialisasi "Aksi 4", Ini Penjelasan Kabid Kesmas SBT

BULA, hunimuanews.com-Dinas kesehatan (Dinkes)  Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menggelar kegiatan aksi penguatan, pergerakan, pelaksanaan intervensi dan sensitif sosialisasi perbub (Aksi 4) dana desa tentang stunting tahun 2020.

 

Kegiatan Sosialisasi tersebut dihadiri oleh enam belas kepala desa dan tujuh camat di kabupaten Seram Bagian Timur yang berlangsung di Gedung Serbaguna Dinas kesehatan Senin, (23/11/2020).

 

Kegiatan itu berlangsung dengan memuat banyak penjelasan tentang penguatan pergerakan dan pelaksanaan sosialisasi perbub melalui dana desa tentang kebijakan mencegah angka stunting di kabupaten Seram Bagian Timur selama tahun 2020 ini, proses tersebut masih membutuhkan banyak tahapan.

 

Selanjutnya, kegiatan ini memliki banyak  materi-materi penting yang dijelaskan oleh beberapa narasumber dari Dinas Kesehatan kepada seluruh peserta yang hadir,  kegiatan ini sekaligus menyampaikan kondisi kesehatan masyarakat, melalui data dan kasus yang terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, serta upaya kebijakan mengevaluasi masalah Stunting tahun 2020 Oleh Dinas Kesehetan SBT.

 

Kepala Bidang (Kabid)  Kesehatan Masyarakat Nurhajati Kilmas dalam pemaparan materinya menyampaikan tentang data stunting di beberapa daerah yang mereka peroleh melalalui puskesmas yang  terdapat pada beberapa kecamatan dan desa di kabupaten SBT.

 

Kilmas juga menjelaskan, terdapat sejumlah kasus stunting di beberapa wilayah di kabupaten SBT, diantaranya Kecamatan Bula Barat sebanyak 53 kasus yang terdata dari tiap desa, di kecamatan pulau gorom terdapat 24 desa yang kasusnya telah didatakan oleh puskesmas setempat, namun kasus terbanyak yang telah disampaikan dari tiga puskesmas di kecamatan pulau Gorom adalah puskesmas Dai, puskesmas Amar sekaru dan Puskesmas Kataloka.

 

Selain itu Kilmas menuturkan, terdapat dua desa yang masih fokus dalam penanganan stunting di tahun 2021 diantaranya adalah desa Kataloka dan desa Sera, sedangkan jumlah stunting yang terdapat pada dua desa tersebut berjumlah 210 orang.

 

Ada beberapa kasus yang sama telah tercatat di beberapa puskesmas, lanjut Kilimas diantaranya puskesmas Afang (Desa Afang) dengan jumlah kasus sebanyak 28 kasus, puskesmas Air kasar dengan kasus stunting tahun ini diantaranya desa kufar dengan kasus sebanyak 52 kasus, Desa Kilbat dengan jumlah kasus stuntingnya  sebanyak 14 kasus.

 

"Masih ada beberapa desa dan puskesmas lain yang belum memasuki datanya kepada kami terkait dengan kasus stunting di masing-masing desa tersebut,  hal ini merupakan masalah yang yang perlu dibahas dan ditindak lanjuti agar kasus ini dapat teratasi dengan baik," tutur Nurhajati Kilmas

 

Di kesempatan yang sama, Basri sebagai kepala bidang (Kabid) pengelolaan kesehatan gizi masyarakat menjelaskan bahwa Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Masyarakat (EPPGM) ini merupakan salah satu aplikasi yang dikeluarkan oleh mentri kesehatan untuk mendeteksi stunting pada tubuh anak,

 

Selain tujuan dari aplikasi, Basri juga mempertegas fungsi aplikasi ini untuk mengetahui secara cepat serta mempermudah mereka dalam proses pekerjaan nantinya. (HN-AMR).