Trauma Banjir, Warga Dawang Memilih Pindah

 Trauma Banjir, Warga Dawang Memilih Pindah

BULA,Hunimuanews.com-Trauma lantaran sudah beberapa kali desa mereka dilanda banjir, warga desa Dawang kecamatan Teluk Waru memilih pindah. Kini, mereka mulai tinggal di lokasi  yang baru. 

 

Keputusan untuk pindah ke lokasi baru sudah melalui pertimbangan yang matang oleh semua masyarakat setempat melalui beberapa kali pertemuan dengan pemerintah desa. “Lewat pertemuan, masyarakat semua mendukung untuk pindah,”ungkap kepala desa Dawang, Arifin Limau kepada wartawan, Senin (30/7).

 

Ia menjelaskan, pertemuan dengan masyarakat, guna membahas rencana pindah tersebut, karena khawatir bencana banjir kembali terjadi dan membuat rumah warga rusa.

 

“Banjir pertama itu sekitar tahun 2012. Waktu itu, kami minta bantu salah satu perusahaan untuk memperbaiki bangunan yang rusak. Tapi, setelah diperbaiki, sudah bagus, musibah banjir lagi, rusak lagi,”terangnya.

 

Menurut Limau, desa Dawang tergolong rawan banjir, karena dikelilingi sejumlah sungai besar dan sungai kecil. Bila hujan deras, dapat meluap hingga menyebabkan banjir yang berjung rusaknya bangunan rumah warga.

 

Selain itu, bagian permukaan struktur tanah di desa Dawang didominasi pasir, bukan tanah liat. Sehingga, saat banjir, mudah terjadi erosi yang mengakibatkan ambruknya banguan rumah warga.

 

Pantauan Hunimuanews.com, saat ini telah dibangun puluhan rumah pada lokasi yang baru, tepatnya di pinggir jalan umum untuk ditempati warga di desa itu. “Di situ agak mendingan,”kata Limau.

 

Menurut Limau, rumah yang telah rampung saat ini jumlahnya mencapai 20 unit, dibangun menggunakan dana desa tahun 2017. Rumah semi permanen tersebut berukuran 7X6 meter dan telah ditempati sekitar 40 kepala keluarga.

 

Ia mengungkapkan, selain rumah yang dibangun menggunakan dana desa tersebut, ada sebagian rumah dibangun dengan anggaan yang merupakan program bantuan pemerintah.

 

Disebutkan, di desa Dawang terdapat seratus lebih kepal keluarga. Sehingga, program pembangunan rumah kembali menjadi salah satu program yang diprioritaskan dalam perencanaan penggunaan dana desa tahun 2018.

 

“Rencana tahun ini, semuanya  sudah bisa pindah. Termasuk saya juga akan pindah. Jadi, di sini (kampung-red) kosong. Selanjutnya kita tunggu penerangan (listrik) saja,”ungkapnya.

 

Menyoal ada tidaknya alternatif lain selain meninggalkan kampung mereka itu, Arifin Limau mengatakan, pihaknya pernah berfikir untuk mengupayakan sistem drainase. Tapi, dinilai tidak efektif untuk melindungi masyarakat dari bencana banjir. Karena selain tidak didukung struktur tanah yang baik, drainase juga dapat rusak, apalagi bila diterjang banjir.“Lebh baik pindah, agar lebih aman dan kita bangun sekaligus,”tandasnya.(MB)