Pangan Berbasis Karakteristik Wilayah

Pangan Berbasis Karakteristik Wilayah

Ambon, hunimuanews - Sagu merupakan salah satu sumber pangan tradisional potensial yang dapat dikembangkan dalam diversifikasi pangan mendukung ketahanan pangan lokal dan nasional. Bahan pangan tradisional ini memiliki nilai gizi tidak kalah dengan sumber pangan lainnya seperti beras, jagung, ubikayu, dan kentang.

 

Kepada para awak media Anggota DPR-RI Mercy Barends mengatakan, dalam rangka memantapkan ketahanan pangan lokal maka kebijakan yang harus dilakukan adalah berbasis karakteristik wilayah masing-masing, hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kekurangan stok beras akibat pengaruh iklim dan cuaca yang mengganggu pendistribusian penyaluran

 

Politisi PDI Perjuangan asal Maluku ini menekankan, untuk menggembalikan budaya mengkonsumsi pangan lokal maka strategi yang harus ditempuh dalam upaya pengembangan sagu dan umbia-umbian sebagai komponen ketahanan pangan lokal di Maluku perlu dilakukan mulai dari hulu ke hilir, baik aspek teknis maupun manajemen melalui pengembangan agribisnis sagu yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi.

 

Potensi lahan sagu di Maluku cukup luas, demikian pula dengan potensi produksinya cukup jauh melebihi sumber pangan lainnya seperti padi, jagung, dan kentang). Tepung sagu dan produk olahannya dapat dikelompokkan sebagai pangan fungsional karena memiliki kandungan karbohidrat (84,7%) dan serat pangan (3,69-5,96%) yang cukup tinggi, indeks glikemik (28) rendah, dan mengandung pati resisten, polisakarida bukan pati, dan karbohidrat rantai pendek yang sangat berguna bagi kesehatan

 

Barends juga meminta Pemerintah Daerah, mempertimbangkan pemberian izin usaha yang berdampak merugikan masyarakat untuk jangka panjang, antara lain pemberian izin perkebunan kelapa sawit.

 

Perubahan konsumsi dikarenakan beberpa faktor antara lain adanya transmigran, mendorong alih fungsi lahan sagu menjadi lahan sawah, beras merupakan komoditas ”bergengsi” yang dapat meningkatkan status sosial, disamping beras tersedia dalam jumlah yang memadai dan mudah diperoleh.

 

Tidak saja sagu tetapi perubahan juga terjadi pada pola konsumsi pangan lokal seperti umbi-umbian lainnya. (HN – dms)