Menutup Aurat Bagi Muslimah Menjadi Sebuah Kewajiban

Menutup Aurat Bagi Muslimah Menjadi Sebuah Kewajiban
hunimuanews.com - Pakaian atau Albisah di dalam bentuk janak yang berasal dari kata libas, yakni batu yang dipakai oleh manusia untuk dapat menutupi serta melindungi seluruh ataupun sebagian tubuhnya dari panas dan dingin layaknya kemeja, sorban dan sarung. Bisa dibilang pakaian adalah setiap sesuatu yang digunakan untuk menutupi tubuh.

Diambil dari buku ‘Panduan Berbusana Islami Berpenampilan Sesuai Tuntutan Al-Quran dan As-Sunnah’ karya Syaikh Abdul Wahab Abdussalam Thawilah, sebagai manusia, pakaian bisa memberikan tiga manfaat sekaligus.

Disamping mempunyai fungsi untuk menutupi tubuhnya karena merupakan fitrah, pakaian juga dapat digunakan untuk melindungi dari berbagai gangguan serta perubahan cuaca. Pakaian juga dapat untuk dijadikan sarana yang bisa memperindah penampilan.

Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam, sungguh Kami yg telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Namun, pakaian taqwa ialah yang paling baik. Demikianlah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka akan selalu ingat.” (QS. Al-A’raf [7]: 26)

Dalam firman-Nya, Allah SWT menjelaskan kepada seluruh anak Adam Jika Dia mengaruniakan berbagai kenikmatan. Di antaranya ialah pakaian yang sesuai dengan perbedaan tingkat dan macamnya.

Allah SWT sudah menciptakan dua jenis pakaian untuk manusia. Pertama ialah pakaian yang bisa menutupi aurat, yaitu pakaian darurat seperti pakaian dalam dan hijab untuk wanita. Kedua ialah pakaian yang dapat memperindah penampilan diri yakni pakaian luar yang bisa menciptakan kesempurnaan dan kesenangan.

Lain halnya dengan pakaian ketakwaan yakni sesuatu yang mantap di hati berupa keimanan dan kesalehan. Ia adalah perhiasan yang paling baik untuk dipakai oleh seseorang. Sebab, produk yang dihasilkan berupa kesucian diri, amal saleh dan juga rasa malu.

Kesucian batin itu lebih penting bila dibandingkan dengan indahnya penampilan lahir. Telanjangnya jiwa dari agama dan akhlak, jauh lebih buruk daripada telanjangnya tubuh. Jadi, maksudnya ialah jiwa yang lebih berhak untuk memperoleh kenyamanan.

Allah SWT berfirman, “Hai anak cucu Adam, kenakanlah pakaianmu yang indah di setiap masuk masjid, makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hambaNya dan ( Siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah, ‘semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan khusus ( untuk mereka saja) di hari kiamat.’ Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. AL-a’raf [7]: 31-32)

Perhiasan yaitu sesuatu yang bisa untuk menghias benda atau seseorang. Dikatakan, ‘telah menghiasinya, menghiasinya dengan suatu hiasan’, lawan dari ungkapan ‘telah membuatnya buruk dan telah menodainya’.

Maksud perhiasan di sini adalah pakaian bagus yang biasa dan itu berarti berhiaslah dengan perhiasan yang telah disyariatkan, yakni pakaian, kebersihan dan kesucian setiap kali sholat atau tawaf.

Perhiasan tersebut minimal berupa sesuatu yang dapat menjaga seseorang dari hal yang bisa memper buruk penampilannya di hadapan orang banyak. Yaitu, sesuatu yang bisa menutupi aurat dan pakaian wajib untuk sahnya shalat dan tawaf.

Selebihnya, diambil dari tafsir Al Mawardi, untuk memperindah diri dengan perhiasan yang layak saat sholat, terutama sholat Jumat, sholat jamaah dan sholat dua hari raya, hukumnya pun sunnah dan bukan wajib.

Hukum pakaian

Dari 2 ayat yang sudah dikemukakan sebelumnya, jelas bagi kita bahwa di dalam berpakaian telah berlaku hukum taklifiy dalam 5 bagiannya, yaitu:

Mafrudh (yang diwajibkan)

Diwajibkan dari berpakaian adalah sesuatu yang bisa untuk menutupi aurat, melindungi dari panas, dingin dan segala bahaya.

Mandub atau mustahab (yang dianjurkan)

Pakaian yang dianjurkan yaitu sesuatu yang dapat diperoleh dari perhiasan dan kenikmatan tanpa adanya pemborosan dan rasa sombong. Hal ini lebih ditekankan lagi pada hari-hari raya, momen-momen pertemuan, perkumpulan dan berbagai kesempatan.

Allah SWT berfirman di dalam surat Ad-Dhuha [93]:11, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur).”

Muharram (yang diharamkan)

Pakaian diharamkan adalah sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah SWT untuk suatu hikmah yang dikehendaki-Nya, seperti emas dan Sutra bagi kaum laki-laki dan memperlihatkan perhiasan bagi kaum perempuan serta sesuatu yang dikenalkan dengan niat riya atau sombong seperti menjulurkan kain dibawah mata kaki bagi laki-laki.

Makruh

Makruh adalah sesuatu yang menjadi dasar prasangka lahirnya unsur pemborosan atau kesombongan. Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa Rasul Alloh SWT bersabda, “makan, minum, berpakaian, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan sombong.” (HR. Al-Bukhari).

Mubah

Mubah yaitu pakaian yang bagus untuk menghiasi diri. Namun, tidak boros. Sebaiknya pakaian tersebut tidak berharga terlalu mahal dan murah.

Hal yang harus diingat dan diperhatikan adalah Islam tidak menetapkan suatu model pakaian khusus. Tetapi, Islam menyusun sekumpulan prinsip serta kaidah kaidah pokok pada pakaian dan memerintahkan umat muslim untuk dapat menjaganya.

Apabila seorang laki-laki menjaga kaidah serta prinsip tersebut pada pakaiannya dan perempuan menjaganya pada pakaian serta hijabnya, tentu pakaian-pakaian tersebut disyariatkan tanpa memandang corak potongan dan jahitannya.

Hal terpenting lain adalah hendaknya pakaian-pakaian tersebut menutup aurat dan bukan yang diharamkan karena faktor internal maupun eksternalnya.

Definisi aurat

Aurat berdasarkan etimologi adalah setiap sesuatu yang terlihat buruk. ‘Awar berarti aib, kurang dan buruk. Setiap sesuatu yang ditutupi orang karena tidak mau dipandang hina dan malu adalah aurat. Disebut pula sauah, karena memperlihatkannya adalah perbuatan buruk yang menjelekkan pelaku itu sendiri jika dia termasuk orang yang shaleh, lantaran akan muncul celaan dan hinaan yang menimpanya.

Adapun menurut terminologi, aurat adalah sebagian tubuh manusia yang wajib untuk ditutupi dan diharamkan untuk membukanya, melihat atau bahkan menyentuhnya. Ini merupakan syarat atau fardhu dalam sahnya shalat.

Kewajiban untuk menutup aurat dan larangan memandang bahkan menyentuhnya

Berdasarkan akal dan syariat, menutup aurat dari pandangan mata adalah wajib. Sebab terdapat unsur keburukan dalam menampakannya. Sesuatu yang buruk, akal dan syariat tentu akan menolaknya. Kaum muslimin pun sepakat tentang adanya kewajiban untuk menutup aurat di hadapan orang lain dan saat sholat.

Ibnu Hubairah di dalam al-Ifshah menyebutkan, “Mereka sepakat jika menutup aurat dari pandangan mata hukumnya wajib dan merupakan syarat sahnya shalat. Kecuali Malik karena dia mengatakan, bahwa hukumnya wajib untuk shalat tetapi bukan syarat sahnya shalat. Namun, sebagian sahabatnya mengatakan, menutup aurat adalah syarat bersamaan dzikir dan keadaan mampu.”

Oleh karena itu, cara membuka aurat dan wajib menundukkan pandangan darinya. Selain itu, diharamkan memandangnya walau tanpa syahwat meski dirasakan aman dari fitnah, kecuali dalam kondisi darurat.

Orang yang mengerjakan shalat dalam keadaan telanjang meski sendirian di tempat yang gelap, Padahal dia punya pakaian yang halal lagi suci niscaya tidak sah sholatnya.

Abu Sa’id Al khudri Ra meriwayatkan bahwa Rasul Allah SWT bersabda, “Laki-laki tidak diperbolehkan untuk memandang aurat laki-laki lain dan perempuan pun tidak diperbolehkan memandang aurat perempuan lain. Laki-laki juga tidak diperbolehkan bersatu dan bersentuhan dengan laki-laki lain dalam satu pakaian dan perempuan tidak boleh bersatu dan bersentuhan dengan perempuan lain dalam satu pakaian.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi). ( HN - GB )