Maret 2018, NTP Maluku Turun 0,47 Persen

Maret 2018, NTP Maluku Turun 0,47 Persen

Ambon, hunimuanews  – Nilai tukar petani (NTP) pada Maret 2018 sebesar 100,43 atau turun sebesar 0,47 persen dibandingkan dengan Februari 2018 yang mencapai 100,90. Catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku

 

Kepala BPS Provinsi Maluku, Dumangar Hutauruk mengungkapkan Penurunan ini terjadi karena yang diterima petani (it) mengalami peningkatan sebesar 0,20 persen, namun masih lebih rendah dari peningkatan yang dibayar petani (ib) tercatat sebesar 0,67 persen

.

Lanjut Dumangar, empat sub sektor penyumbang menurunnya NTP yakni tanaman pangan, (0,29 persen), tanaman hortikultura (1,75 persen), peternakan (0,73 persen) maupun perikanan (0,05 persen).

 

Beberapa komoditas yang mengalami peningkatan harga /penyumbang peningkatan it, yakni sub sektor tanaman pangan meliputi ketela pohon, jagung,, ubi jalar. Selanjutnya, sub sektor tanaman hortikultura meliputi cabai rawit, kangkung, tomat, buncis, petai, jahe dan kunyit lengkuas.

 

Subsektor tanaman perkebunan rakyat yakni pala biji, cengkih, kelapa, biji jambu mete. Subsektor perikanan tangkap yakni ikan tongkol, ikan cakalang, ikan tanggiri, ikan belanat, , ikan gumalah, dan kepiting laut.

 

Deflasi perdesaan Maluku sebesar 0,79 persen, disebabkan naiknya IKRT kelompok bahan makanan (1,40 persen) perumahan (0,48 persen) makanan jadi , minuman, rokok, dan tembakau (0,16 persen), dan kesehatan (0,09 persen), sandang (0,04 persen).


Dumangar juga menyebutkan, komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi perdesaan Maluku adalah ikan teri, cabai rawit, ikan tembang, bawang putih, ikan selar, ikan cakalang mie instan, kakap merah ikan tongkol, dan beras.

 

NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan.


NTP juga menunjukan daya tukar dari harga produk pertanian dengan harga barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk harga produksi.

 

Semakin tinggi NTP, maka relatif semakin kuat pada tingkat kemampuan atau daya beli/daya tukar petani,tandas Dumangar. (HN – dms)