Maqdir Ismail : Setnov Terima Rp 5,9 Triliun Perlu Dibuktikan

Maqdir Ismail : Setnov Terima Rp 5,9 Triliun Perlu Dibuktikan

Jakarta, hnunimuanews - Sidang kasus korupsi proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto (Setnov) kembali digelar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat. Dengan genda persidangan hari ini mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan dari Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kuasa hukum Setnov, Maqdir Ismail, mengatakan pihaknya akan mendalami lebih lanjut perihal transaksi e-KTP yang diduga mengalir ke mantan ketua DPR periode 2014-2019 itu.

"Itu yang akan kita buktikan bahwa uang itu ada atau tidak ada. Apakah betul sampai pada Pak Novanto atau tidak dan sumber uang itu dari mana hitungannya seperti apa. Saya kira fokus nanti di situ," ujar Maqdir di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (15/1).

Maqdir menuturkan, ada tidaknya uang yang diterima Setnov dari proyek senilai Rp 5,9 triliun itu perlu dibuktikan lebih lanjut. Sebab, menurutnya, tidak ada bukti atau petunjuk yang membenarkan mantan ketua umum Partai Golkar itu menerima uang dari proyek e-KTP.

"Kan kita enggak tahu apakah memang betul kalau ada uang itu pernah sampai pada Pak Novanto atau tidak kan kita tidak ada yang tahu," jelas dia.

Setya Novanto pun menegaskan tidak tahu adanya transaksi yang terungkap dalam persidangan.

"Saya tidak tahu transaksi itu," ujar Setya Novanto.

Sementara itu diketahui skema transaksi yang diungkap jaksa penuntut umum pada KPK disinyalir berkaitan dengan korupsi e-KTP. Uang tersebut berasal dari Johannes Marliem, sebagai vendor penyedia AFIS merek L-1.

Setya Novanto didakwa menerima USD 7,3 juta terkait proyek e-KTP. Uang tersebut selanjutnya diterima oleh Setnov dengan cara dan perincian sebagai berikut:

Diterima melalui Made oka Masagung, mantan komisaris PT Gunung Agung, seluruhnya berjumlah USD 3.800.000 melalui rekening OCBC Center Branch atas nama OEM Investment, PT, Ltd. Kemudian kembali ditransfer sejumlah USD 1.800.000 melalui rekening Delta Energy, di Bank DBS Singapura, dan sejumlah USD 2.000.000.

Selain melalui Made, uang juga diterima melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, keponakan Novanto, pada 19 Januari - 19 Februari 2012 seluruhnya berjumlah USD 3.500.000.

Sehingga total uang yang diterima terdakwa baik melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo maupun melalui Made oka Masagung seluruhnya berjumlah USD 7.300.000 . (HN LukyP)