Kisah M. Imran Takdir Rumbouw, Pendiri LKP Goran Riun

Kisah M. Imran Takdir Rumbouw, Pendiri LKP Goran Riun

Berbekal pengetahuan serta semangat yang dimiliki, Muhammad Imran Takdir Rumbouw, pemuda asal negeri adminitratif Etaralu Kotasiri kecamatan Gorom Timur kabupaten Seram Bagian Timur ini mendirikan lembaga pendidikan non formal yang diberi nama Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Goran Riun. Dari lembaga ini, ratusan peserta didik pun telah pandai berhasa Inggris dan siap menghadapi era Globalisasi.

 

CATATAN : REDAKSI HUNIMUANEWS.COM

Muhammad Imran Takdir Rumbouw (35), pemuda berperawakan sedang ini tergolong sosok pemuda yang Low Profile, kendati prestasinya di bidang pendidikan patut diancungi jempol. Betapa tidak, ia telah membina ratusan pelajar di kepualaun Gorom untuk siap menghadapi pergaulan di era globalisasi dengan bekal kemampun berbahasa Inggris yang mumpuni.

 

Saat bertemu pemuda yang akrab disapa Takdir ini pada Minggu (26/8), hunimuanews.com mengorek informasi darinya tentang kisah membina sekitar 800 ratus generasi muda untuk belajar dan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.

 

Anak pertama dari dua bersaudara itu pun tidak pelit berbagi pengalaman dengan hunimuanews.com Menggunakan bahasa yang sederhana serta logat Seram Timur yang kental dan diselingi candaan, ia berbagai pengalamanya itu.   

 

Dari mulut Takdir Rumbouw, diketahui bahwa setelah lulus Kuliah pada tahun 2011, jebolan Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Bahasa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kie Raha Kota Ternate, Maluku Utara ini langsung pulang kampung, membawa impian besar di yang masih tersimpan di kepalanya.

 

“Beta (Saya) tidak tertarik menjadi PNS, karena ingin mendirikan lembaga pendidikan non formal untuk mendidikan adik-adik di Gorom, terutama pelajar, agar lebih mampu berbahasa Inggris secara baik. Itu beta punya impian,”ungkapnya.

 

Tiba di kampung halaman, pemuda ini ditawari menjadi guru honorer untuk mata pelajaran bahasa Inggris di SMA Negeri 1 Pulau Gorom. Ia tak menyia-nyiakan tawaran itu. Bukan mengejar penghasilan, tapi kesempatan berbagi ilmu sekaligus memulai misi besarnya, mendirikan lembaga pendidikan non formal dan mengajak para pelajar untuk mendalami bahasa Inggris di lembaga yang direncanakan.

 

“Baru mengajar sebagai guru honorer kurang lebih tiga bulan, langsung buka Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Goran Riun,”sebut  anak dari pasangan suami isteri Rajab Rumbouw (Alm) dan Mariyati Rumbouw/Letelay ini.

 

Pria kelahiran kota Ambon 31 Maret 1983 ini mengaku sempat diperhadapkan pada kendala saat mulai mewujudkan impiannya itu. Dengan keterbatasan dana serta fasilitas, ia memberanikan diri, mengurus berbagai perizininan, kemudian memulai pendidikan non formal tersebut.

 

Dengan meminjam tiga ruang belajar di sekolah tempat ia mengabdi sebagai guru honor, Rumbouw pun memulai aktivitasnya, membina peserta didik pada lembaganya bersama salah satu rekan gurunya, Hasanudin Rumata.

 

Disebutkan, peserta didik di lembaga ini adalah pelajar SMA, SMP, SD. Bahkan, ada juga yang sudah putus Sekolah, tapi memiliki keinginan untuk berlajar.“ Waktu pertama buka, peserta hanya 9 orang. Maklum, baru buka,”ungkapnya.

 

Itu berarti, kesibukannya bertambah. Rumbouw harus berbagi waktu, agar kewajibannya sebagai guru honor tetap berjalan, jadwal proses belajar- mengajar di lembaga pendidikan non formalnya ditentukan, yakni tiga kali dalam satu Minggu. Mulai pukul 15 :00 Wit hingga pukul 17 :30 Wit.

 

“Sebagai generasi muda Gorom, SBT, beta punya impian, adik-adik peserta ini dapat berbahasa Inggris dengan baik. Karena saat ini adalah era globalisasi, butuh generasi muda yang siap, terutama kemampuan berhasa Inggris yang baik,”ungkapnya.

 

Berbasis di negeri Kataloka kecamatan Pulau Gorom, LKP Goran Riun terus menunjukakan keberhasilan. Satu per satu peserta didik semakin mampu berbasaha Inggris. Jumlah peserta didik pun bertambah. Warga semakin mempercayakan anak mereka untuk dididik di lembaga ini.

 

“Sampai saat ini, total jumlah peserta didik yang masih aktif maupun yang sudah lulus sekolah dan yang sudah kuliah kurang lebih 800 orang,”rincinya.

 

Keberhasilan lainnya dengan adanya puluhan “Alumni” LKP Goran Riun yang lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru di sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia dengan mengambil jurusan bahasa Inggris. Bahkan ada yang mengambil jurusan bahasa Jerman.

 

“Ada diantaranya, waktu masih aktif di LKP Goran Riun, sudah bantu mengajar di lembaga ini, karena kemampuanya sudah cukup baik,”kata Rumbouw.

 

LKP Goran Riun juga perna dikunjugi oleh sejumlah mahasiswa asal Amerika Serikat, Australia, Prancis, dan Kanada dan menggelar sejumah kegiatan bersama para peserta didik.

 

“Para mahasiswa luar negeri itu datang dalam rangka rangka kegiatan WWF (World Wide Fund for Nature), lalu berkunjung di di LKP Goran Riun,”sebut Rumbouw.

 

Kemampuan peserta didik di LKP Goran Riun juga ditunjukkan saat event Fetsival Kataloka pada tahun 2017. Mereka tampil dengan sebuah drama dan berdialog menggunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Gorom, dan bahasa Indonesia.

 

Ditanya tentang perhatian pemerintah terhadap LKP Goran Riun?, Rumbouw mengaku, selain izin serta tiga ruang belajar sekolah yang digunakan, hingga saat ini belum ada dukungan lain dari pemerintah, terutama pemerintah kabupaten SBT.

 

“Sebenarnya, lembaga ini perlu punya gedung sendiri serta fasilitas yang memadai, agar lebih efektif, tapi inilah hambatannya. Jadi, semua masih berjalan apa adanya. Padahal, jumlah peserta terus bertambah,”ungkapnya.

 

Karena itu, selain di negeri Kataloka, LKP Goran Riun juga dibuka di kecamatan Gorom Timur, yakni di negeri Administrtif Etaralu Kotasiri dan Amarwawatu.

 

“Harapanya, pemerintah daerah dapat memberikan perhatian. Karena ini bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia generasi muda, terutama kemampuan berhasa Inggris, sehingga lebih siap menghadapi tantangan serta persaingan di era globalisasi,”harapnya.(***)