Kemiskinan di SBT Turun 0,94 Persen

Kemiskinan di SBT Turun 0,94 Persen

BULA, hunimuanews.com - Angka kemiskinan di kabupaten Seram Bagian Timur mengalami penurunan sebesar 0,94 persen pada tahun 2017. Daerah ini masuk lima besar daerah di Maluku yang paling cepat menanggulangi kemiskinan.

 

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Litbang kabupaten SBT, Ekayanti Wokanubun saat rapat koordinasi dengan pihak Badan Pusat Statistik (BPS) kabupaten SBT serta sejumlah pimpinan OPD di kantor Bappeda kabupaten SBT, Selasa (24/7).

 

“Itu data BPS. Dari 24.53 persen pada tahun 2016, turun menjadi 23.59 persen. Jadi penurunan angka kemiskinan itu 0, 94 persen,”kata Wokanubun.

 

Sementara, lanjut Wokanubun indeks kedalaman kemiskinan di daerah ini meningkat dari 4.26 pada tahun 2016 menjadi 4.48 pada tahun 2017. Dan indeks Keparahan kemiskinan meningkat dari 1,20 pada tahun 2016 menjadi 1,57 pada tahun 2017.

 

“Berdasarkan persentase secara umum di Maluku, kita masuk lima besar. SBT urutan ke lima dalam penanggulangan kemiskinan tercepat,”sebutnya.

 

Kepala BPS kabupaten SBT, Paulus Maruanaya mengatakan, data tentang kemiskinan tersebut merupakan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susesnas). BPS menggunakan indikator kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, yakni makanan dan non makanan.

 

“Kalau makanan, itu berdasarkan jumlah Kalori yang dikonsumsi, lalu diuangkan. Kemudian ditambahkan dengan kebutuhan atau pengeluaran  non makan lalu memperoleh garis kemiskinan,”katanya.

 

Sebagaimana diketahui, konsep Garis Kemiskinan (GK) menurut BPS merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

 

Jadi, penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.

 

Indikator yang digunakan untuk kebutuhan minimum makanan adalah jumlah uang yang dikeluarkan untuk dapat memenuhi kebutuhan minimum energi sebesar 2100 kalori per hari.

 

Sementara kebutuhan minimum bukan makanan dinilai berdasarkan jumlah uang yang dileuarkan untuk memenuhi kebutuhan minimum bukan makanan, diantaranya perumahan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan

 

Paulus Maruanaya melanjutkan berdasarkan Susenas tahun 2017, untuk memenuhi standar jumlah Kalori yang ditetapkan, penduduk SBT perlu mengeluarkan uang rata-rata sebesar Rp334.645 per kapita.

 

“Misalnya, jumlah anggota dalam suatu rumah tangga ada empat orang. Kemudian dikali dengan Rp.334. 645. Kalau pendapatan keluarga itu dibawah jumlah ini (4XRp.334. 645-red), maka rumah tangga tersebut dinyatakan miskin. Kalau di atas itu, dinyatakan tidak miskin,”sebutnya.

 

Sementara, terkait rilis tentang hasil Susenas per Maret 2018, ia mengatakan, belum diperoleh pihaknya. “Sebenarnya ada data kemiskinan terbaru yang sudah dirilis pada beberapa Minggu lalu, tapi hasilnya belum sampai di sini,”katanya.(MB)