Hanya Negara Indonesia Yang DIpercaya Myanmar Tengahi Konflik Rohingya

Hanya Negara Indonesia Yang DIpercaya Myanmar Tengahi Konflik Rohingya
hunimuanews.com - 1000 kepentingan, belasan konflik, beberapa negara yang tengah resah di tengah kepungan kepentingan negara-negara besar berkaitan dengan sumber daya alam, dan hanya satu negara bernama Indonesia yang dipercaya menyelesaikannya.

Bagaimana tidak, minggu-minggu ini merupakan minggu penting bagi Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, di tengah eskalasi konflik serta kekerasan terhadap masyarakat Rohingya di Myanmar. Penolakan Mynamar terhadap kedatangan perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak berlaku untuk perwakilan asal Indonesia.

Kabar-kabar yang beredar di Whats App Group tentang Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi tengah didekati petinggi negara tersebut agar Indonesia dapat dan memberikan nasihat penyelesaian kini terkonfirmasi oleh padatnya jadwal Menlu Retno.

Cepatnya reaksi Myanmar tersebut diikuti pula dengan gesitnya pemerintah kita. pada beberapa hari yang lalu (02/09/2017), telah berlangsung pertemuan Menlu dengan Sekjen PBB Antonio Gutteres. Selain pertemuan tersebut, Indonesia juga menghubungi beberapa pihak sentral yang krusial dan tertarik menjadi obligator penanganan konflik, diantaranya, Menlu Turki Mevlut Cavusoglu, Menlu Bangladesh Abul Hasan, serta Penasihat Nasional Myanmar, U Thaung Tun.

Dijadwalkan pula, pada hari ini, Senin (04/07/2017), pertemuan Retno dengan Perdana Menteri Myanmar Aung San Suu Kyi. Pertemuan tersebut dilangsungkan salah satunya agar isu konflik di Rohingya tidak terkabut oleh isu-isu liar yang tidak bertanggungjawab.

Dalam hal ini, pemerintah Myanmar akan menjelaskan permasalahan yang terjadi di Rakhine. Bagaimanapun, rumitnya situasi lapangan, menjadikan pemerintah Myanmar sulit bertindak, karena mengaburnya batas-batas antara konflik bermotif sektarian, ekonomi, politik, hingga muncul isu baru perang kepentingan antara negara-negara besar di Rakhine yang telah mengudara sejalan dengan peningkatan eskalasi konflik.