Kisah Perempuan di Fatolo, 10 Tahun Menjadi Pemecah Batu

Kisah Perempuan di Fatolo, 10 Tahun Menjadi Pemecah Batu

Menjadi pemecah batu merupakan pilihan sejumlah ibu rumah tangga di desa Fatollo kecamatan Bula kabupaten Seram Bagian Timur. Sudah puluhan tahun orang-orang berkodrat feminim ini menjalani profesi tersebut. Memecah batu kemudian menjualnya untuk menambah pengasilan keluarga. 

 

OLEH : REDAKSI HUNIMUANEWS.COM

Jarum jam menunjukkan pukul 14 : 35 Wit. Jalan raya yang menjadi akses utama dari kota Bula kabupaten Seram Bagian Timur ke kecamatan Teluk Waru dan sejumlah kecamatan lain tidak begitu ramai. Hanya beberapa kendaraan roda empat dan roda dua lalu lalang pada, Rabu (18/7) siang ini.

 

Dari badan jalan raya, terlihat beberapa buah tenda beratap Terpal dengan ukuran bervariasi 2x2 meter serta 3X2 meter persegi, berjejer sekitar 10 meter dari jalan. Beberapa tumpukan batu Spilit (Batu Pecah) menyerupai bukit-bukit kecil di samping tenda-tenda tersebut.

 

Di dalam sejumlah tenda, terlihat tiga perempuan paruh baya sedang larut dalam kesibukan mereka. Sepertinya mereka tidak gerah meski terik matahari cukup menyengat.

 

Para ibu rumah tangga itu, masing-masing menggenggam sebuah Martil dan menghamtamnya diatas setiap batu seukuran Mangga Golek hingga pecah. Batu-batu yang diambil dari sebuah kali di sekitar lokasi itu pun terbagi menjadi beberapa buah batu berukuran lebih kecil.

 

“Sudah 10 tahun kerja ini (pemecah dan penjual batu-red),”ungkap Zainab, salah satu dari tiga perempuan tersebut kepada hunimuanews.com.

 

Di sekitar tenda milik Zainab dan kedua rekannya itu, terlihat beberapa buah tenda tanpa aktivitas. Hanya ada tumpukan batu pecah (batu Spilit) di dalam dan samping tenda-tenda tersebut. “Mereka (pemilik tenda-red) lagi istirahat kerja karena ada hajatan di kampung. Nanti mereka datang lagi,”kata Zainab.

 

Meski sedang bekerja, namun Zainab maupun dua ibu rumah tangga lainnya itu, tidak pelit berbagi kisah dengan hunimuanews.com. Sesekali mereka menghentikan gerakan tangan dan bercerita seputar profesi itu.

 

Untuk sampai di lokasi ini, biasanya mereka berjalan kaki dari desa Fatolo dengan menempuh jarak kurang lebih 1km. Menyusuri hutan dan sungai. “Kalau hujan deras, kami istirahat,”kata Zainab.

 

Meski pekerjaan yang sedang digeluti itu tergolong keras untuk perempuan, apalagi usia mereka sudah lebih dari setengah abad. Namun dengan sabar dijalani demi mengais rezeki, menambah penghasilan keluarga.

 

“Bapak (suami-red) nelayan. Tiga anak kami masih sekolah, satu lagi kuliah. Butuh biaya. Jadi, kerja ini (pecah batu) buat tambah-tambah biaya mereka,”ungkap Zainab dengan nada datar.

 

Batu pecah yang dihasilkan, dikumpulkan di sekitar tenda, kemudian dijual dengan harga Rp.250 ribu per Kubik. Batu Spilit itu juga dijual dengan ukuran ember 3.5 liter seharga Rp.10 ribu.“ Satu bulan bisanya dapat satu juta rupiah dari hasil jual batu,”ungkapnya.

 

Batu Spilit yang mereka hasil tersebut, umumnya dibeli oleh pihak tertentu yang menangangani proyek pemerintah  serta masyarakat yang ingin membangun rumah atau pekerjaan pribadi lainnya.

 

“Yang beli ukuran kubik biasanya untuk proyek. Kalau ukuran ember ini biasanya masyarakat yang bangun rumah,”kata Zainab sambil menunjukkan beberapa buah ember.

 

Kendati tidak setiap hari batu yang mereka hasilkan itu dibeli, karena tergantung, namun mereka tetap bersemangat untuk menyediakan materil bangunan tersebut.

 

“Biasanya ada yang telepon, tanya. Kalau ada batu, mereka datang untuk beli. Itu nomor hp saya,” kata Zainab sambil  tertawa kecil dan menunjukkan nomor telepon selulernya yang ditulis pada potongan kayu di dalam tenda miliknya itu. (***)