Dua Pemuda Sabuai Mendekam di Meja Sidang, Warga Turun Jalan

Dua Pemuda Sabuai Mendekam di Meja Sidang, Warga Turun Jalan

BULA, hunimuanews.com- Gabungan pemuda dan masyarakat adat sabuai kecamatan Siwalalat kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) kembali turun jalan menggelar aksi unjuk rasa kesekian kalinya di depan kantor Pengadilan Negeri Dataran Hunimua Kamis, (21/10/21).

 

Dalam aksi tersebut mereka meminta pihak pengadilan segera membebaskan dua pemuda adat Sabuai Kaleb Yamarua dan Stevanus Ahwalam, yang kini ditetapkan sebagai terdakwa oleh Pengadilan Negeri Dataran Hunimua karena diduga melakukan tindakan pengrusakan terhadap fasilitas milik CV. Sumber Berkat Makmur (SBM).

 

Aksi yang berlangsung pada pukul 09:15 Wit itu seperti tak biasanya, sebab di warnai dengan berbagai prosesi adat yang dilakukan. Suguhan adat yang kerap terlihat sakral itu sebagai semiotik cinta kasih mereka terhadap dua pahlawan adat Sabuai yang mendekam di meja persidangan. Tidak hanya itu, lantunan puisi pembakar semangat para masa aksi pun diteriakan.

 

Salah satu orator aksi Hardi Kwaikamtelat dalam aksinya mengatakan, dua pemuda adat Sabuai yang kini ditetapkan sebagai terdakwa itu tidak logis berdasarkan akal sehat mereka. Menurutnya, tindakan yang dilakukan oleh kedua pemuda tersebut lantaran ada sebabnya. 

 

"Ini seng masuk akal, dua pemuda ini bertindak membela hutan adat mereka dari tangan korporat si Yongki itu, kenapa mereka bisa di tetapkan sebagai terdakwa oleh pihak pengadilan," kata Hardi

 

Dikatakan, perusahaan Sumber Berkat Makmur SBM milik Imanuel Qudaresman itu melakukan pembalakan liar alias membabat habis hutan ada mereka. Kendati demikan, dua pemuda yang terkesan bertindak melindungi hutan adat mereka itu pun kini di vonis bersalah dan menjalani proses hukum di pengadilan negeri dataran Hunimua.

 

Sementara hal senada turut di tandaskan Ketua Persatuan Alumni (PA) GMNI SBT Abdul Azis Yanlua. Dalam orasinya Azis mengatakan, dua warga Desa Sabuai yang saat ini menjalani persidangan itu tidak memiliki riwayat hidup sebagai orang jahat.

 

Menurutnya, tindakan penyelamatan hutan adat yang berakhir pada pengrusakan alat berat itu merupakan bagian dari pelampiasan rasa kecewa rakyat Sabuai terhadap pihak CV SBM yang secara mebabi buta membabat hutan adat mereka.

 

"Siapa yang berperan sebagai orang jahat? Orang yang menebang kayu sampai terjadi banjir atau orang yang menghalangi supaya jangan sampai terjadi penabangan kayu yang berlebihan sebagai orang jahat," tandas Azis

 

Dia mengungkapkan, puluhan masyarakat dan pemuda yang mendatangi kantor Pengadilan tersebut semata-mata menuntut keadilan. Kendati demikian, Sekretaris DPD KNPI SBT itu menjelaskan, Pengadilan Negeri Dataran Hunimua sebagai lembaga yang diberi mandat oleh Negara mesti memutuskan perkara secara adil tanpa mengintimidasi pihak manapun.

 

"Kok masa kasus penabangan kayu pembalakan besar besaran yang begitu hebat itu ditetapkan dengan pasal yang paling ringan," heran Azis

 

Diketahui dua pemuda adat Desa Sabuai itu kerap menjalani proses persidangan sesuai jadwal yang ditentukan. Namun para warga Sabuai tidak akan tinggal diam. Mereka terus melakukan aksi unjuk rasa sebagai sebagai satu tugas rutin bagi mereka. (HN-MR)