Dosen UI Ade Armando Dilaporkan Atas Dugaan Ujaran Kebencian Oleh FPI

Dosen UI Ade Armando Dilaporkan Atas Dugaan Ujaran Kebencian Oleh FPI

JAKARTA, hunimuanews.com - Kuasa Hukum Pelapor dari Front Pembela Islam (FPI), Azis Yanuar P, S.H.,M.H.,M.M. berniat melaporkan Dosen Universitas Indonesia Ade Armando ke Bareskrim Polri. Ungkapan tersebut di sampaikan saat di temui team Media di Ruang Pelaporan Bareskrim Polri jakarta, pada Rabu (12/02/2020).

 

Ade dilaporkan lantaran melakukan Ujaran Kebencian yang di lakukannya yaitu penghinaan terhadap FPI dalam sebuah akun media sosial Youtube Realita TV.

 

Azis mengungkpkan Kebebasan untuk berserikat dan berkumpul merupakan sebuah hak konstitusi setiap warga negara indonesia yang di atur dalam undang undang Dasar. 

 

Selain itu lanjut Azis konstitusi juga menjamin agar setiap warga negara mendapatkan perlindungan atas kehormatan dan martabatnya. Dugaan ujaran kebencian yang di lakukan Ade Armando yang mengatakan "FPI itu organisasi Preman, Bangsat" dan beberapa peryataan yang tendensinya menghina dan provokatif pada sebuah acara Talk Show sangatlah menyinggung perasaan Keluarga Besar FPI yang merupakan organisasi yang legal di negara ini. 

 

Azis menmbahkan Hal teraebut sangat mencederai kehidupan berbangsa dan bermasyarakat di indonesia dan juga berdampak buruk jika tidak segera ditindaklanjuti melalui jalur hukum. Tindakan dan pernyataan tersebut juga membuktikan seorang Ade Armando tidak akan pernah kapok untuk berbuat sekehendaknya karena memang tidak pernah ada tindakan hukum yang membuat ia jera. Oleh karena itu dan atas tindakan Ade Armando tersebut kuasa hukum melaporkan yang bersangkutan. 

 

Namun, setelah beberapa jam di Bareskrim Polri, laporan tersebut tak diterima. Menurut Azis, penyidik dengan berbagai alasan menolak laporan tersebut.

 

"Argumennya pertama menyatakan bahwa yang melapor harus yang bersangkutan, artinya Ketua Umum FPI atau orang merujuk ke pasal 310. Kita bantah kita tidak mengenakan pasal 310 tapi 156 KUHP," kata Azis di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin, 10 Februari 2020.

 

Kemudian, lanjut Azis, penyidik beralasan lagi bahwa harus ada yang menyaksikan saat Ade menghina FPI. Dalam hal ini, ia pun beragumen dalam kasus yang menjerat mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bisa diproses meskipun tak ada pelapor yang menyaksikan.

 

"Saya bantah pada kasus Ahok jelas kita melaporkan tanpa di Pulau Seribu bisa diproses," ujarnya.

 

Alasan lainnya yang dikemukakan penyidik menolak laporan bahwa kasus ini harus melalui Dewan Pers karena Realita tv memenuhi legalitas pers.

 

"Saya katakan tidak bisa, kita pakai bukti Rocky Gerung dilaporkan di Polda Metro Jaya pada saat keterangan di ILC. Tidak ada Dewan Pers dan tvOne-nya dipermasalahkan. Kedua, Jonru dilaporkan bahkan ditahan terkait keterangan di ILC," tuturnya.

 

Ia pun mempertanyakan perbedaan penanganan kasus tersebut. Azis merasa ada ketidakadilan dan tebang pilih proses hukum. "Saya katakan apakah beda Kapolrinya? Apa peraturannya beda di Polda dan Mabes? Sama kan," ucap Azis.

 

Dari sisi barang bukti, ia menegaskan bahwa sudah terpenuhi mulai dari rekaman video, transkripan ucapan Ade Armando hingga linkvideo Youtube.

 

Dalam video tersebut, Azis menyatakan bahwa Ade Armando jelas menghina FPI dengan menyebut FPI adalah organisasi preman dan menyamakannya dengan Nazi. "Dia mengatakan bahwa FPI organisasi preman, lalu bangsat. Dia menyamakan Nazi dengan FPI," ujar Azis.

 

Dengan ditolaknya laporan ini, ia pun mengaku iri lantaran Ade Armando seperti kebal hukum. Sebab, berdasarkan penelusurannya, sudah ada beberapa kasus yang menjerat Ade Armando tapi hingga saat ini tidak ada kejelasannya. "Setelah kita telisik ternyata banyak kasus yang melibatkan Ade Armando. Ada lima atau enam itu mangkrak tidak jelas. Bahkan ada yang tersangka tidak jelas masih bebas katanya. (HN-Hasan WD)